October 24, 2014 |  

 
 
  Latest Gallery  
 

PERNYATAAN PERS TAHUNAN

MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA

R.M. MARTY M. NATALEGAWA

TAHUN 2014

 

 

JAKARTA, 7 JANUARI 2014

 

 

Yang terhormat Duta Besar negara sahabat dan pimpinan organisasi internasional,

 

Sesepuh serta seluruh jajaran Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, baik di tanah air maupun di luar negeri,

 

Pimpinan media massa dan hadirin yang terhormat,

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

Mengawali pernyataan pers tahunan ini, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat-Nya, kita masih diberikan kesempatan untuk meneruskan dharma bakti kita bagi nusa dan bangsa.

Selanjutnya, perkenankan kami, secara pribadi dan juga mewakili rekan-rekan di Kementerian Luar Negeri, menyampaikan selamat tahun baru 2014.

Hadirin yang kami hormati,

Kami memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan mengenai kekuatan diplomasi:

mengenai kemampuannya untuk menemukan solusi terhadap berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi masyarakat bangsa-bangsa;

mengenai kemampuannya untuk mencegah atau mengakhiri konflik dan perang, serta menciptakan perdamaian; dan

mengenai kemampuannya untuk mewujudkan potensi yang dimiliki bangsa-bangsa guna memajukan kepentingan sosial dan ekonomi, serta mendorong pemajuan hak asasi manusia.

Kami juga memiliki keyakinan yang teguh terhadap semangat pengabdian kepada negara, dan tentunya untuk umat manusia pada umumnya.

Suatu upaya yang tiada henti – bahkan suatu tekad – untuk mencapai kebaikan bersama. Oleh karenanya, kami ingin memulai sambutan hari ini dengan menyampaikan penghargaan yang tulus kepada seluruh diplomat Indonesia di berbagai pelosok dunia: dari Afghanistan di benua Asia hingga Argentina di benua Amerika; dari Ukraina di benua Eropa hingga Uganda di benua Afrika, atas komitmen dan pengabdian mereka yang teguh terhadap bangsa. Bekerja dengan tekun dan memberikan kontribusi, seringkali jauh dari sorotan publik. Kami ingin meyakinkan para diplomat Indonesia bahwa kinerja dan sumbangsihnya tidak diabaikan. Justru sebaliknya, kesemuanya itu sangat dihargai.

Para hadirin yang kami hormati,

Dilandasi semangat dimaksud, pernyataan awal tahun Kementerian Luar Negeri kali ini akan mengusung satu tema yang sifatnya cukup sederhana namun kiranya penuh makna. Yaitu, menempatkan diplomasi sebagai jawaban terhadap berbagai tantangan di hadapan kita bersama. Dan, tentunya, menggunakan diplomasi untuk memanfaatkan berbagai peluang yang terbentang di hadapan kita.

Dalam kaitan ini, kami berkeyakinan bahwa tantangan yang paling mendasar dihadapan kita adalah pemeliharaan perdamaian dan keamanan di kawasan. Hal ini telah, dan akan terus menjadi, prioritas utama politik luar negeri Indonesia di tahun 2014. Karena, sesungguhnya, hal ini merupakan prasyarat bagi kelanjutan kemajuan ekonomi dan kemakmuran kawasan. Kenyataan ini telah terbuktikan dalam beberapa dekade terakhir. Namun kita tidak dapat lengah. Perdamaian merupakan sesuatu yang harus senantiasa diperjuangkan. Dan, kemakmuran merupakan sesuatu yang perlu terus diraih.

Upaya ini bukan sesuatu yang mudah. Karena kita saat ini menyaksikan berbagai gejala yang nampak saling bertentangan.

Sebagai contoh, pada saat kawasan kita, Asia Tenggara, memasuki tahap akhir menuju Komunitas ASEAN 2015, kawasan yang lebih luas, yakni Asia Timur dan Asia Pasifik, justru menunjukkan tanda-tanda peningkatan ketegangan dan ketidakpastian.

Juga, pada saat perekonomian di kawasan semakin terjalin erat dan saling tergantung satu dengan lainnya, kita justru melihat tanda-tanda semakin berkurangnya rasa saling percaya atau trust deficit.

Dan, pada saat manfaat cara penyelesaian sengketa secara damai jelas terlihat, justru, terdapat tanda-tanda pendekatan unilateral menjadi pilihan.

Oleh karena itu, kebijakan politik luar negeri Indonesia pada tahun 2014 akan terus ditujukan untuk mengatasi tiga bentuk tantangan utama yang menurut Indonesia dihadapi kawasan Asia Pasifik, yaitu: berkurangnya rasa saling percaya; sengketa wilayah; dan perubahan geo-politik dan geo-ekonomi.

Pada intinya, untuk mengubah “trust deficit” menjadi “strategic trust”;

Untuk mengesampingkan penggunaan atau ancaman penggunaan kekuatan dalam menyelesaikan sengketa wilayah;

Dan untuk mencegah kembalinya pola pikir era Perang Dingin di kawasan- mencegah terjadinya jurang pemisah baru antar negara di kawasan. Sebaliknya, sesuai dengan prinsip kebijakan politik luar negeri “bebas aktif”, memajukan sebuah kawasan yang ditandai oleh “keseimbangan dinamis (dynamic equilibrium)”. Suatu kondisi yang ditandai oleh tidak adanya suatu negara yang dominan, bukan melalui "block-politics" yang cenderung menimbulkan ketidakstabilan baru, melainkan melalui hubungan antar negara yang saling menghormati berdasarkan prinsip-prinsip keamanan bersama dan kemakmuran bersama. Bahwa sesungguhnya, keamanan dan kemakmuran yang bersifat langgeng hanya dapat diraih jika dinikmati secara bersama oleh seluruh negara kawasan, dan bukan secara sepihak.

Kesemuanya ini hanya akan dapat dicapai jika pertama dan utamanya, kita berhasil mewujudkan Komunitas ASEAN 2015. Mengingat bahwa suatu rasa kebersamaan atau komunitas tidak dapat serta merta diciptakan melalui pengukuhan suatu persetujuan atau kesepakatan, maka sangat penting untuk membangkitkan rasa kepemilikan dan partisipasi, bahkan relevansi ASEAN, di antara masyarakatnya. Dan, pada saat kita senantiasa diingatkan akan keterkaitan erat antara perkembangan di tingkat nasional dan kawasan, maka kita perlu memastikan agar kondisi yang kondusif bagi pencapaian Komunitas ASEAN dimajukan tidak saja dalam hubungan antar negara ASEAN, melainkan juga di dalam masing-masing negara anggota ASEAN.

Bahkan, politik luar negeri Indonesia dalam kerangka ASEAN kini menatap jauh pasca 2015. Yaitu melalui kontribusi aktif terhadap pembahasan visi Komunitas ASEAN pasca 2015. Bagi Indonesia, visi pasca 2015 tersebut mencakup 4 elemen utama, yakni: pertama, konsolidasi Komunitas ASEAN; kedua, kontribusi nyata ASEAN bagi perdamaian dan kemakmuran kawasan yang lebih luas; ketiga, peran global ASEAN sesuai dengan Bali Concord III; dan keempat, perumusan apa yang dapat disebut sebagai Tujuan Pembangunan ASEAN (ASEAN Development Goals) yang melanjutkan capaian MDGs serta selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang saat ini sedang dirumuskan di tingkat global.

Singkatnya, sementara masih banyak pekerjaan yang membentang di hadapan kita untuk mewujudkan Komunitas ASEAN 2015, kita juga perlu secara bersamaan memulai pembahasan yang sunguh-sungguh mengenai masa depan kita pasca 2015. Seperti selama ini, kebijakan politik luar negeri Indonesia pada tahun 2014 akan berkontribusi secara aktif dalam membentuk arsitektur kawasan.

Dalam hal pemeliharaan perdamaian dan stabilitas di kawasan, apakah melalui ASEAN atau forum lainnya, diplomasi Indonesia tidak akan kenal henti. Perhatian perlu diberikan pada pengelolaan potensi konflik di Laut China Selatan. Perkembangan positif akhir-akhir ini memberikan harapan. Tahun 2013 yang lalu menyaksikan kebangkitan peran penting diplomasi dengan tercapainya kesepakatan antara RRT dan ASEAN untuk memulai konsultasi formal mengenai tata perilaku atau code of conduct di Laut China Selatan. Tidak diragukan, perundingan yang berat dihadapan kita. Namun, Indonesia yakin bahwa dengan kemauan politik yang kuat, suatu kemajuan dimungkinkan. Yaitu dicapainya sebuah tata perilaku di Laut China Selatan yang menjadi “rules of the road” atau panduan yang bertujuan untuk membangkitkan rasa saling percaya, mencegah terjadinya insiden, dan, jika insiden tetap terjadi, agar dikelola sedemikian rupa sehingga tidak menjadi konflik terbuka.

Sesungguhnya dalam hal tertentu, pengalaman Asia Tenggara, apakah terkait pembangunan komunitas (community building) ataupun pencegahan konflik, relevan bagi kawasan Asia Timur dan Asia-Pasifik yang lebih luas. Misalnya, perkembangan setahun terakhir ini di Laut China Timur dan tentunya, ketegangan yang terus menerus di Semenanjung Korea, mengingatkan kita bahwa negara-negara di Asia Timur juga membutuhkan peningkatan rasa saling percaya, dan penyelesaian perselisihan melalui cara-cara diplomatik yang damai. Oleh karena itulah, sepanjang tahun yang silam, Indonesia telah memulai pembicaraan dengan negara-negara kawasan mengenai sebuah kerangka kerja sama yang serupa dengan Treaty of Amity and Cooperation yang berlaku di kawasan Asia Tenggara, namun kali ini kita peruntukkan bagi kawasan Asia-Pasifik secara lebih luas, atau kawasan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Sebuah perjanjian yang mengikat secara hukum di antara negara-negara di kawasan, yang didasari oleh EAS “Bali Principles” for Mutually Beneficial Relations tahun 2011. Suatu perjanjian mengenai pemajuan rasa saling percaya; penolakan penggunaan kekuatan, dan komitmen terhadap penyelesaian sengketa secara damai; serta prinsip-prinsip keamanan dan kemakmuran bersama. Pada tahun 2014 ini, Indonesia akan melanjutkan upaya mendorong pembahasan hal ini.

Tentunya, tidak ada jaminan bahwa suatu hasil dapat dicapai dalam waktu singkat. Namun, berdiam diri bukan merupakan suatu pilihan. Berdiam diri akan berarti kawasan kita akan semakin dibayang-bayangi oleh ancaman konflik. Termasuk yang tidak disengaja sebagai akibat dari salah perhitungan.

Singkatnya, sebagaimana tahun yang lalu, pada tahun mendatang, Indonesia akan terus memanfaatkan segala bentuk kemampuan diplomasinya untuk mencapai perdamaian dan kemakmuran di kawasan.

Bahkan, cara pandang seperti ini tidak hanya terbatas pada kawasan Asia Pasifik. Sebagai suatu kekuatan kawasan dengan kepentingan global, Indonesia akan senantiasa menyuarakan penggunaan diplomasi dalam menyikapi sengketa dan situasi konflik di berbagai belahan dunia.

Pada tahun 2013 yang lalu, kita telah menyaksikan betapa upaya diplomasi dapat membuahkan hasil yang nyata, seperti dalam penanganan isu senjata kimia di Suriah, dan juga perundingan 5+1 dengan Republik Islam Iran. Pada tahun 2014 ini, Indonesia kembali akan mendorong penyelesaian diplomatik atas konflik di Suriah dan situasi konflik serupa lainnya, serta tentunya dalam mewujudkan hak-hak sah bangsa Palestina yang sudah terlalu lama tertunda.

Terkait Palestina, tahun ini akan ditandai oleh penguatan dukungan Indonesia terhadap Palestina antara lain melalui dukungan peningkatan kapasitas kelembagaan Palestina. Dengan berakhirnya program pembangunan kapasitas Palestina yang diupayakan melalui New Asia-Africa Strategic Partnership periode 2008 – 2013, maka akan diluncurkan tahap dukungan selanjutnya untuk periode 2014-2019. Selain itu, dengan menjadi tuan rumah Conference on Cooperation among East Asian Countries for Palestinian Development (CEAPAD), Indonesia juga akan menggalang dukungan serupa dari negara-negara Asia Timur.

Dalam bidang perlucutan senjata, Indonesia bersama Hungaria selaku Ketua Bersama upaya mendorong pemberlakuan Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty (CTBT), akan terus memperjuangkan universalisasi Traktat dan pemberlakuannya secepat mungkin. Sebagai negara Annex 2, yang ratifikasinya dibutuhkan untuk memberlakukan Traktat tersebut, Indonesia telah meratifikasi Traktat pada tahun 2012. Selanjutnya, Indonesia akan terus mendorong 8 negara Annex 2 lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Hadirin yang kami muliakan,

Pendekatan diplomasi juga diterapkan dalam menghadapi keterkaitan yang erat antara masalah politik keamanan di satu sisi, dengan masalah sosial ekonomi di sisi lain, serta keterkaitan antara masalah nasional, bilateral, regional dan global.

Salah satu wujud nyata adalah dalam penerapan diplomasi ekonomi. Sebagai contoh, pada tahun 2013, diplomasi Indonesia telah memberikan kontribusi nyata terhadap agenda Pembangunan pasca 2015, melalui peran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai salah satu co-chairs dari UN High Level Panel of Eminent Persons; melalui Keketuaan Indonesia pada APEC 2013; melalui Konferensi Tingkat Menteri WTO di Bali; melalui kontribusi pada Pertemuan Puncak G-20 di St. Petersburg serta forum multilateral ekonomi lainnya; dan tentunya, melalui upaya yang berkelanjutan untuk memperkuat hubungan ekonomi bilateral dengan berbagai negara sahabat.

Juga, kebijakan politik luar negeri Indonesia telah secara aktif mendekatkan hubungan antar kawasan, termasuk antara Asia dan Eropa, misalnya melalui ASEM dan dalam kerangka hubungan ASEAN-EU, dan juga antara Asia Timur dengan Amerika Latin, melalui pertemuan FEALAC dimana Indonesia menjadi co-chair dan sekaligus tuan rumah pada tahun 2013. Politik luar negeri Indonesia juga telah mewujudkan tekadnya untuk meningkatkan kerja sama antar negara-negara di kawasan Samudera Hindia melalui IORA, serta negara-negara Pasifik Barat Daya baik melalui PIF, MSG maupun peningkatan hubungan bilateral.

Tentunya, tahun ini juga akan ditandai penguatan diplomasi ekonomi Indonesia – secara bilateral, regional, antar kawasan dan global. Kesemuanya bertujuan untuk memastikan kontribusi diplomasi terhadap pembangunan perekonomian nasional.

Hadirin yang kami hormati,

Perkembangan sepanjang tahun 2013 juga mengingatkan kita tentang adanya keterkaitan erat perkembangan masalah dalam negeri suatu negara dan situasi di kawasannya. Perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan bagian lain dari benua Afrika, menjadi contoh nyata. Suatu contoh bagaimana perdamaian dan keamanan antar negara dapat terancam oleh perkembangan dalam negeri suatu negara.

Politik luar negeri Indonesia pada tahun 2014 akan terus memberikan tanggapan yang terukur terhadap realita tersebut. Yaitu realita bahwa masalah internal dan eksternal memiliki keterkaitan yang erat.

Oleh karenanya, di kawasan kita, tahun ini akan ditandai oleh 10 konsolidasi terus menerus Bali Democracy Forum, sebagai forum yang penting bagi negara-negara di Asia-Pasifik, bahkan kini di luar kawasan, untuk saling berbagi pengalaman tentang demokrasi. Demikian pula, kita akan terus memperkuat kelembagaan hak asasi manusia ASEAN, terutama melalui ASEAN Inter-Governmental Commission for Human Rights (AICHR).

Relevan dan terkait dengan hal ini, pada bulan Agustus tahun ini, Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan ke-6 dari United Nations Alliance of Civilizations (Aliansi Peradaban). Suatu kerja sama global yang mengedepankan nilai-nilai dialog dan kerukunan di antara berbagai peradaban dunia. Penyelenggaran Alliance of Civilizations yang pertama kali di kawasan Asia-Pasifik ini akan mengusung tema “Unity in Diversity”.

Diplomasi juga akan dikedepankan dalam penanganan berbagai isu yang penanganannya memerlukan kerja sama internasional. Masalah seperti keamanan pangan, keamanan energi, keberlanjutan lingkungan dan bencana alam. Tantangan seperti kejahatan transnasional – apakah terorisme maupun perdagangan dan penyelundupan manusia.

Keterkaitan antara masalah domestik dan internasional juga tampak jelas dalam penanganan isu perlindungan warga Negara. Tahun yang silam menunjukkan semakin kompleks dan bervariasinya situasi yang memerlukan diberikannya perlindungan terhadap warga negara kita di luar negeri – mulai dari kondisi kerja hingga instabilitas politik, dan bencana alam. Pada tahun 2013 misalnya, tidak kurang dari 40.236 warga negara Indonesia di luar negeri telah dilindungi kembali ke tanah air. Kita bertekad untuk terus memperkuat upaya perlindungan warga Indonesia di luar negeri dengan memfokuskan diri pada tiga pendekatan yang saling terkait: pencegahan, deteksi dini dan perlindungan.

Hadirin yang kami hormati,

Tahun mendatang, sebagaimana tahun lalu, tentunya akan dipenuhi berbagai tantangan dan ketidakpastian. Namun, politik luar negeri Indonesia menyongsong tahun ini dengan penuh harapan. Indonesia akan senantiasa menempatkan diplomasi dan dialog sebagai pilihan utama dalam mengatasi berbagai tantangan. Dalam melindungi dan memajukan kepentingan nasionalnya. Dan dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Mengakhiri pernyataan tahunan kali ini, perkenankankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi atas kemitraan seluruh elemen bangsa, terutama kepada Komisi I, DPR RI sebagai mitra Kementerian Luar Negeri.

Melalui kemitraan dan sinergi seluruh elemen bangsalah, maka kiprah diplomasi Indonesia akan terus menguat. Kita bukan saja dapat mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi, namun disaat yang sama dapat meraih peluang yang ada dan bahkan dapat mengubah tantangan menjadi peluang.

Kepada rekan-rekan media, tentu kami ingin menyampaikan penghargaan terhadap kemitraan yang ditunjukkan selama ini.

Media massa telah mengkomunikasikan diplomasi dan kebijakan politik luar negeri dengan baik kepada masyarakat luas. Pada kesempatan ini, secara khusus kami ingin menyampaikan ucapan selamat kepada pemenang Adam Malik Award tahun ini.

Kami memiliki keyakinan, kerja sama yang baik selama ini akan dapat dipertahankan dan bahkan dapat semakin ditingkatkan pada masa yang akan datang.

Kami juga meyakini bahwa dengan kerja keras, tahun 2014 ini diplomasi akan semakin memberikan kontribusi bagi kepentingan nasional Indonesia.

Mempertahankan NKRI dan kedaulatan negara;

Mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional;

Mengkonsolidasikan demokrasi;

Memajukan toleransi dan kemajemukan Indonesia.

Insya Allah.

Terima kasih.

Wassalamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations, New York
325 East 38th Street, New York, NY, 10016, USA
Tel: 1.212.972.8333,   Fax: 1.212.972.9780   -   www.indonesiamission-ny.org

 

GALLERY
RI Kutuk Keras Serangan Brutal Israel di Gaza
RI Kutuk Keras Serangan Brutal Israel di Gaza

Latest Press Release

New York - 23 October 2014.

RI Serukan DK PBB Atasi Kejahatan Massal

Featured Links

 
 
 
     
 


Copyright © 2013 - Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations
325 East 38th Street, New York, NY, 10016, USA
Telp : +1-212-972-8333 | Fax : +1-212-972-9780 | eMail: ptri@indonesiamission-ny.org

All Rights Reserved.