
No.068/HMS/IX/00PRESS RELEASEMenteri Luar Negeri RI Alwi Shihab menyampaikan pidato dalam perdebatan umum sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa ke-55 di Markas Besar PBB New York pada hari selasa tanggal 19 September 2000. Dalam pidatonya Menlu Alwi Shihab menyatakan bahwa Millennium Summit yang baru saja berakhir dan melahirkan suatu deklarasi yang menjadi prinsip-prinsip pegangan bagi hubungan antar bangsa menandai suatu lembaran baru bagi PBB dalam menghadapi berbagai tantangan, rintangan dalam mewujudkan perdamaian dan pembangunan, di samping penegakan prinsip-prinsip serta tujuan dari Piagam PBB. Menlu menyatakan keyakinan akan tercapainya tujuan-tujuan tersebut melalui kerjasama antar negara anggota PBB, masyarakat madani, organisasi internasional dan sektor swasta. Lebih lanjut Menlu Shihab menegaskan bahwa untuk mencapai tujuan dimaksud harus didukung dengan pemberdayaan organisasi yang tidak terbatas pada ruang lingkup perubahan struktur dan mekanisme atau penambahan dana dan personil tetapi pemberdayaan yang memberikan otoritas dan legitimasi baru bagi PBB melalui penetapan norma-norma serta agenda PBB sesuai kenyataan baru mengenai reformasi Dewan Keamanan PBB. Menlu menyambut Pernyataan Bersama para Kepala Negara/Pemerintahan anggota tetap DK PBB tanggal 7 September yang menjanjikan Dewan Keamanan PBB agar lebih transparan dan terwakili guna meningkatkan efektifitas perdamaian dan keamanan dunia. Mengenai dukungan Indonesia dalam kerangka pasukan perdamaian PBB, Menlu RI menegaskan bahwa Indonesia yang sejak tahun 1957 aktif berperan dan mengirimkan pasukannya, kini sedang berupaya meningkatkan jumlah, kualitas dan efektifitas partisipasi RI di dalam misi-misi PBB. Untuk tujuan tersebut, Indonesia sedang mempelajari berbagai kecenderungan pada bentuk-bentuk penanganan konflik-konflik baru, sebagai mana disebutkan dalam laporan Sekjen PBB dan panel yang diketuai oleh Duta Besar Lahdar Brahimi. Dalam mengamati konflik di beberapa wilayah seperti masalah Palestina-Israel, Semenanjung Korea, Somalia, Eriteria dan Ethiopia, Menlu melihat adanya perkembangan positif yang terefleksikan dengan adanya semangat kerjasama dan kompromi. Khusus mengenai kejadian di Atambua, Menlu Shihab mengatakan bahwa tidak saja dunia tapi juga Indonesia merasa sedih atas tewasnya tiga orang personel UNHCR dan tindakan hal ini tidak dapat dibiarkan tanpa hukuman terhadap pelaku. Namun hal ini jangan membuat hilangnya bantuan kemanusiaan tetapi perlu kerjasama untuk mencari penyelesaian agar segala rintangan, khususnya yang menghalangi penyampaian bantuan kemanusiaan dapat diatasi dengan baik. Sementara itu Menlu Shihab juga menyatakan bahwa jutaan manusia belum dapat menikmati keuntungan dari globalisasi dan revolusi teknologi informasi. Kesenjangan ini dapat menimbulkan ketidakstabilan. Oleh karena itu, perhatian umum akan perdamaian dan kemakmuran menjadi timpang bila melihat dunia yang memasuki abad 21 masih diwarnai oleh konflik, kemiskinan, ketidakmerataan termasuk kelaparan, buta huruf dan wabah penyakit. Namun, di lain pihak pada KTT Selatan di Havana beberapa waktu lalu nampak adanya optimisme terhadap globalisasi dan revolusi teknologi komunikasi dan informasi untuk membantu pembangunan dan mengentaskan kemiskinan. Pemikiran serupa menjadi tema sentral pada Pertemuan Tingkat Tinggi Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) bulan Juli lalu yang menggarisbawahi pentingnya Teknologi Informasi dan Komunikasi Teknologi (ICT) untuk menunjang pembangunan. Kepedulian terhadap pembangunan yang berkelanjutan dan lingkungan menjadi perhatian khusus pula karena merupakan hasil dari Agenda 21 di Rio pada tahun 1992. Agenda 21 atau lebih dikenal Rio+10 akan meninjau kembali perkembangan selama 10 tahun terhadap pelaksanaannya. Pada kesempatan tersebut Menlu Shihab menyatakan bahwa Indonesia bersedia menjadi tuan rumah Pertemuan Rio+10 ini, apalagi Indonesia telah mendapatkan dukungan yang kuat pada Pertemuan Tingkat Menteri se-Asia Pasifik mengenai Lingkungan dan Pembangunan yang diadakan di Jepang baru-baru ini. Dalam menutup pidatonya Menlu RI menyatakan bahwa yang dibutuhkan pada abad 21 ini adalah merubah ide-ide menjadi tindakan, suatu pesan dari KTT Millennium. New York, 19 September 2000
|