
|
No. 062/HMS/IX/00 PRESS RELEASE Pada tanggal 6 September 2000 Presiden beserta Ibu S. Nuriyah Abdurrahman Wahid mengikuti rangkaian acara KTT Millennium PBB yang diawali dengan Breakfast bagi para kepala negara/Ketua Delegasi yang diselenggarakan oleh Sekjen PBB pada pk. 07.30. KTT Millennium PBB dibuka secara resmi oleh Co-President yaitu Presiden Namibia Sam Nujoma dan Presiden Finlandia Halone pada pk. 09.00.Sekjen PBB Koffi Annan sebelum memberikan sambutannya meminta para hadirin untuk berdiri memberikan rasa simpati atas peristiwa yang terjadi di Atambua yang menewaskan 3 orang personil UNHCR. KTT Millennium yang dihadiri oleh lebih dari 160 kepala negara/pemerintahan akan berlangsung sampai tanggal 8 September 2000 dan akan menyelenggarakan enam pertemuan pleno dan empat mejabundar (interactive round tables) Masing-masing round table akan mengakomodir paling sedikit 40 peserta dan akan dipimpin oleh kepala negara dan/atau pemerintahan dari kawasan Asia, Amerika Latin dan Karibia, Eropa Timur, dan Afrika.Pengaturan penentuan ketua dan pendistribusian negara kedalam keempat roundatble tersebut diserahkan kepada masing-masing kelompok regional. Indonesia selaku Ketua Kelompok Asia bulan Juni 2000 telah berhasil menentukan modalitas baik bagi penentuan ketua maupun pendistribusian negara-negara anggota ke dalam roundtable. Semua round table akan membahas tema dan sub-tema yang sama.Tema utama dari pertemuan Millennium Summit tersebut adalah Peranan PBB dalam abad ke-21. Tema ini dipilih berdasarkan konsultasi-konsultasi dan masukan-masukan yang diterima oleh Sekjen PBB dari negara-negara anggota PBB, badan-badan khusus PBB dan para pengamat lainnya. Ada dua pertimbangan mengapa tema ini dipilih (Dokumen A/53/948): Pertama, tema tersebut menggambarkan perlunya PBB mengidentifikasi tantangan-tantangan yang akan dihadapinya di masa mendatang; serta perlunya PBB memperkuat dan memantapkan diri sebagai suatu organisasi universal yang bersifat unique; Kedua, bahwa kesempatan Millennium Summit hendaknya tidak diartikan sebagai sebuah peristiwa perayaan, tetapi lebih sebagai suatu kesempatan untuk memperkuat komitmen terhadap tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip Piagam PBB serta untuk mendorong terciptanya momentum politik untuk memperkuat kerjasama dan solidaritas internasional.Dalam rangka penyelenggaraan Millennium Summit, Sekjen PBB telah menyusun sebuah laporan berjudul "We the peoples: the role of the United Nations in the 21st century" (Kami bangsa-bangsa: peranan PBB di abad ke-21) (Dokumen A/54/2000). Melalui Laporannya Sekjen PBB memberi gambaran tentang berbagai bentuk tantangan yang akan dihadapi oleh negara-negara anggota PBB di abad ke-21. Sekjen PBB menegaskan pula bahwa Laporan yang disusunnya itu bertujuan untuk: (1) memfasilitasi persiapan Millennium Summit; (2) menstimulasi debat di dalam Millennium Summit; (3) mengidentifikasi beberapa tantangan yang dihadapi umat manusia; (4) mengusulkan sejumlah prioritas untuk dipertimbangkan dalam Millennium Summit; dan (5) merekomendasikan beberapa langkah yang dapat dilaksanakan dengan segera oleh Millennium Summit. New York, 6 September 2000
|