NO.059/HMS/IX/00

Press Release

Presiden Abdurrahman Wahid mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Ehud Barak tanggal 6 September 2000 pukul 10:15 siang di Markas Besar PBB, New York. Dalam pertemuan tersebut Presiden RI didampingi oleh Menlu Alwi Shihab dan Wakil Tetap RI untuk PBB Dubes Makarim Wibisono, sedangkan PM Israel didampingi 3 pejabat tinggi.

PM Israel menyatakan penghargaannya terhadap uapaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah RI di bawah pimpinan Presiden Wahid  terutama dalam proses demokrasi, pemulihan ekonomi, dan reformasi di berbagai bidang. Ehud Barak memuji Indonesia khususnya dibawah Presiden Gus Dur sebagai simbol kerukunan karena para pemeluk berbagai agama dapat hidup bersama secara harmonis.

PM Israel juga menjelaskan proses perdamaian antara Palestina dan Israel yang mengalami beberapa hambatan yang cukup mendasar. Israel mengharapkan pengertian pihak Palestina atas posisi Israel agar proses perdamaian dapat dilanjutkan. Walaupun pesimis mengenai proses perdamaian setelah pertemuan Camp David mengalami kegagalan, Israel akan terus mengupayakan jalan keluar agar momentum yang ada tidak hilang. Barak sendiri harus memperluas koalisi pemerintahannya guna menggalang dukungan atas langkah diplomasi yang ditempuh. Ybs juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap kelompok garis keras yang bisa merusak proses perdamaian yang ada.

Presiden RI menyampaikan kegembiraannya atas kesediaan Israel untuk terus mencari terobosan atas proses perdamaian yang mengalami kebuntuan. Indonesia telah menyampaikan harapannya kepada pemimpin Palestina untuk mempertimbangkan kembali keputusannya untuk mendeklarasikan kemerdekaan pada tanggal 13 September 2000. Indonesia dan Mesir berusaha untuk meyakinkan pemimpin PLO Yasser Arafat bahwa perlu mendengar saran KTT OKI yang dilangsungkan bulan Nopember 2000. Sementara itu, Indonesia juga akan terus berupaya ikut membantu kelancaran pembicaraan dan mencari alternatif untuk ditawarkan kepada kedua belah pihak. Akan tetapi Indonesia akan menerima dan menghargai keputusan apapun yang akan diambil oleh rakyat Palestina.

Kedua negara menyepakati untuk meningkatkan komunikasi guna menjajaki kemungkinan memperluas kerjasama dalam batas-batas yang dimungkinkan. Akan tetapi Presiden RI menggarisbawahi bahwa perluasan kerjasama ini akan tergantung pada penyelesaian menyeluruh konflik Arab-Israel khususnya bangsa Palestina. Presiden mengharapkan kiranya segera dicapai suatu kesepakatan final antara kedua bangsa yang akan berdampak positif terhadap hubungan Indonesia-Israel.

                                                                                New York, 6 September 2000