
|
058/HMS/IX/00 Press Release Presiden Abdurrahman Wahid mengadakan pertemuan dengan Sekjen PBB tanggal 6 September 2000 pukul 12:00 siang di Markas Besar PBB, New York. Dalam pertemuan tersebut Presiden RI didampingi oleh Menlu Alwi Shihab dan Wakil Tetap RI untuk PBB Dubes Makarim Wibisono, sedangkan Sekjen PBB didampingi oleh sejumlah pejabat tinggi PBB antara lain Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Politik Kieran Prendergast. Sekjen PBB, Kofi Annan menyatakan penghargaannya terhadap perubahan-perubahan yang telah dilakukan oleh pemerintah RI di bawah pimpinan Presiden Wahid terutama dalam proses demokrasi, reformasi, pemulihan ekonomi, keutuhan wilayah dan persatuan nasional Indonesia. Diharapkan perubahan kabinet RI sebagai hasil sidang umum MPR yang baru lalu dapat mendukung upaya-upaya pemulihan situasi politik seperti tersebut di atas. Dalam pertemuan tersebut, Presiden RI menyesalkan terjadinya insiden Atambua, Timor Barat pada tanggal 6 September 2000 yang menewaskan 3 orang personil UNHCR dan dalam hal ini Presiden telah menyampaikan ucapan belasungkawa kepada para keluarga korban. Selanjutnya Presiden menjelaskan bahwa pihak Pemri akan segera menyelidiki insiden tersebut dengan bekerjasama dengan pihak UNTAET. Dalam tanggapannya Sekjen PBB menyatakan menyambut baik gagasan untuk memperkuat keamanan di wilayah yang masih rawan terutama kamp-kamp pengungsi di wilayah Timor Barat. Presiden RI dan Sekjen PBB tersebut sepakat untuk mempercepat penyelesaian masalah pengungi yang diharapkan dapat diselesaikan dalam waktu tiga bulan. Hubungan baik Presiden RI dengan Presiden CNRT diharapkan akan dapat meningkatkan kerjasama untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut dengan dukungan dari UNTAET. Sementara itu, Presiden Wahid juga menyampaikan bahwa Indonesia akan membantu proses perdamaian antara Israel dan Palestina. Masih terdapat masalah yang belum terselesaikan khususnya kedaulatan atas Jerusalem akan tetapi Presiden yakin bahwa akan dicapai pengertian sehingga perselisihan atau konflik antar kedua bangsa dapat dihindari. Presiden menyatakan bahwa apapun keputusan strategis yang diambil Palestina atau Israel maka akan lebih baik kalau didahului oleh suatu kesepakatan. Indonesia akan berusaha untuk mencari peluang untuk membantu perundingan yang saat ini masih mengalami kemacetan. Diharapkan kunjungan Presiden ke jalur Gaza dan Jerusalem dalam rangkaian kunjungannya ke Baghdad dalam waktu dekat ini dapat digunakan untuk tujuan ikut memperlancar perundingan perdamaian tersebut. New York, 6 September 2000
|