053/HMS/IX/00

PRESS RELEASE

Presiden RI Abdurrahman Wahid mengikuti Round Table on Dialogue Among Civilizations pada tanggal 5 September 2000, pukul 10.00-11.30 di Markas Besar PBB. Dalam acara tersebut hadir pula 9 Kepala Negara yaitu Iran, Algeria, Namibia, Mali, Nigeria, Qatar, Latvia, dan Mozambique serta 2 menteri dari India dan Costa Rica. Dalam acara tersebut, Sekjen PBB memberikan sambutan pembukaan dalam acara tersebut.

Acara Dialog dimaksud diprakarsai oleh UNESCO dan Iran. Pembahasan dalam acara tersebut difokuskan untuk menyambut peringatan United Nations Year of Dialogue Among Civilizations tahun 2001 yang dikaitkan dengan permulaan abad 21 dan issue globaisasi. Penetapan tahun 2001 sebagai tahun peradaban mengharapkan bahwa abad baru ini dapat dimanfaatkan untuk memulai suatu pendekatan atau wacana baru terhadap interaksi global antara manusia dari berbagai peradaban dan budaya.

Dalam acara tersebut Presiden RI menyatakan dukungannya pada peringatan International Year of Dialogue Among Civilizations. Presiden berpandangan bahwa dialog external merupakan hal yang sangat penting namun yang lebih penting adalah melihat perkembangan internal, karena tanpa dialog internal maka tidak akan terwujud dialog internasional. Presiden Abdurrahman Wahid juga menyatakan bahwa Indonesia telah terlepas dari pemerintahan otoriter di masa lalu dan sekarang telah memasuki masa demokrasi dan saat ini telah terjadi dialog secara intensif ditengah-tengah perbedaan yang ada. Presiden juga menekankan bahwa saat ini yang paling penting adalah perdamaian dan menyatakan bahwa di berbagai negara senantiasa terdapat gagasan modernisasi yang tidak terlepas dari aspek tradisional. Dalam kaitan ini yang penting adalah memahami modernisasi sehingga tidak bertentangan dengan tradisi.

                                                                    New York, 5 September 2000